Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Golden Rules of The Lovable Auditor | Tips Menjadi Auditor Yang Disukai

Dalam sebuah obrolan dengan klien, seorang teman sempat melontarkan joke bahwa dua pekerjaan yang paling dibenci orang adalah HRD dan auditor. HRD kata dia, adalah garda depan yang akan berurusan dengan loe kalo loe ada masalah dengan perusahaan. Yang menyebalkan adalah biasanya HRD paham banget dengan UU Naker sementara kita ngga, dan biasanya itu jadi kartu truf mereka. Sementara auditor, biasanya menambah load kerjaan dengan permintaan data yang segudang dan menimbulkan perasaan tidak nyaman karena menjadi obyek pemeriksaan.

Joke klien gue itu bikin gue makin sadar bahwa perlu lebih dari sekadar skill teknis audit untuk menjadi seorang auditor yang baik. Dari pengalaman, gue ingin berbagi beberapa tips yang sederhana tapi bisa jadi faktor determinan yang membedakan from good to great, from obnoxious to lovable :)

Make friends, not enemies. Auditor eksternal adalah profesi yang memungkinkan loe kenal dengan banyak orang baru di berbagai lingkungan baru. Rugi banget kalo kesempatan itu ga dimanfaatin untuk menambah teman. Bersikap profesional bukan berarti melupakan bahwa loe manusia dan auditee juga manusia, dan dengan kaku membatasi kontak dalam kerangka kerjaan. Dalam banyak kasus gue menemukan justru keluwesan kita dalam berinteraksi memberi banyak kemudahan dalam menyelesaikan tugas. Sebagai contoh, ketika pertama kali menemui seorang manajer di sebuah perusahaan telco terbesar di Indonesia, gue melihat dinding ruangannya penuh dengan foto bangunan-bangunan terkenal di Jerman, difoto hitam putih dengan komposisi ciamik. Gue putuskan untuk menjadikan foto-foto itu sebagai ice breaker, “Itu kan Allianz Arena? kenapa difoto hitam putih? bukannya fotografer biasanya menangkap keajaiban stadion itu berubah warna ?” Dari pertanyaan itu akhirnya kita ngobrolin bagaimana si manajer itu rupanya berusaha mengabadikan ciri khas Jerman, paduan fungsionalitas dan estetika, yang lebih kuat ditangkap dengan cara memotret seperti itu.

Di lain klien, gue memanfaatkan info jadwal kepulangan haji dari stafnya, untuk mengirim sms ucapan selamat yang tepat waktu pada seorang Dept. Head yang jadi auditee gue. Usaha-usaha remeh tapi tulus yang menunjukkan kita melihat orang itu sebagai pribadi yang utuh, pada gilirannya akan membuka banyak pintu.

Help the client fulfill their commitment. Pekerjaan audit sangat tergantung pada bantuan klien. Baik itu berupa data-data yang harus disediakan atau waktu auditee untuk melayani pertanyaan dan konfirmasi kita. Seringkali jadwal audit molor karena data yang belum tersedia. Karena itu penting untuk sejak awal meminta komitmen dari klien berupa jadwal tersedianya data.

Nah, tugas kita adalah membantu klien menepati komitmen yang sudah dia buat. Beberapa resep yang harus diingat adalah: pastikan jadwal tersebut dapat dipenuhi-kita harus paham betul dengan kesibukan dan agenda internal klien, ingatkan klien kalau dia menyodorkan jadwal yang tak mungkin dipenuhi karena kita tahu dia pasti sibuk dengan hal lain.

Kedua, bantu klien untuk mengerti kebutuhan dan tujuan audit kita, biasanya keengganan klien muncul karena dia tidak tahu sebenarnya mau kita apa. Contoh, seorang admin firewall akan curiga kalau kita srudak-sruduk minta rule yang di-implement di jaringan.

Ketiga, jangan cuek dengan birokrasi dan sopan santun organisasi klien. Pastikan kita meminta data yang tepat kepada orang dengan wewenang dan pengetahuan yang tepat. Hindari kondisi-kondisi tidak enak dimana kita diberi suguhan aksi seorang atasan yang memarahi bawahannya karena lancang memberi data ke auditor.

Keempat, jangan pasif ketika mengunggu data. Sempatkan diri untuk memberi gentle reminder lewat email atau telepon. Jangan lupa menanyakan dengan penuh atensi apakah klien mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan kita.

Don’t corner, give some space. Alkisah, dalam suatu engagement gue dipasangkan dengan seorang senior yang punya “reputasi”. Pada satu sesi inquiry, gue menyaksikan bagaimana si senior memborbardir klien dengan pertanyaan-pertanyaan beruntun. Terkesan jelas bagaimana si senior lebih tertarik untuk menghabiskan list pertanyaan yang sudah dibuat daripada mendengar dan mem-follow up jawaban klien. Belum lagi bagaimana si senior itu entah gimana sepertinya punya skill untuk selalu barging in ke ruangan auditee pada saat yang salah. Ga heran kalau belakangan si auditee bilang dengan ketus ke si senior, “You bring the worst outta people”.

Jangan melupakan fakta bahwa selain urusan dengan auditor, auditee kita juga harus menghadapi tekanan tugas kesehariannya yang kompleks, apalagi kalau pada saat bersamaan dia juga sedang dikejar deadline proyek internal yang mission critical.

Professional scepticism. Ini mentalitas utama auditor yang ga boleh pernah ketinggalan. Di awal-awal gue jadi auditor, gue seringkali membuat kesalahan karena begitu mudah percaya dengan omongan klien atau termakan oleh asumsi-asumsi yang gue buat sendiri.

“Oh iya Pak, audit trail log ini pasti kita review tiap minggu” atau “Saya pribadi memastikan bahwa proses anu sudah berjalan sesuai SOP” atau “Itu kita buat kok Pak, tapi kita masih harus nyari ditaruhnya di mana”. Rule of thumb-nya adalah no evidence, not done. Biasakan untuk selalu based on fact, fakta dan hanya faktalah yang punya tempat di laporan audit. Sedekat apapun hubungan dengan klien, indra curiga ini harus tetap jadi batas yang membedakan kita sebagai seorang profesional.

If you strike, strike with respect. Dalam banyak kesempatan sebagai auditor loe akan berjumpa dengan yang namanya finding. Bahkan ada temen gue yang menilai kerjanya dari berapa banyak finding yang dia bisa angkat dalam suatu engagement. Kontrol-kontrol yang tidak efektif, entah karena kelalaian, ketidaktahuan, atau kemalasan. Terkadang kita dibuat bertanya-tanya apakah klien tidak menghitung risiko yang mungkin sehingga begitu abai dengan kontrol yang sangat penting ?

Hal yang utama adalah, betapapun “gemes”nya kita melihat ketidakberesan di klien jangan sampai kita “menghukum” klien. Sampaikan temuan dengan bahasa yang konstruktif dan tidak men-judge. Pastikan untuk selalu mengkonfirmasi sebelum memasukan temuan ke dalam laporan. Jangan lupa juga mengingat rantai birokrasi di klien, setiap temuan harus diinformasikan dari level terbawah baru menuju ke atas.

What happen in audits, stay in audits. Kalau soal yang ini pasti semua sudah mengerti. Sebagai auditor, pasti diberikan akses leluasa ke berbagai informasi yang sifatnya confidential. Kepercayaan klien tentu saja harus dijaga, jangan sampai reputasi pribadi dan firma ternoda dengan sebutan auditor ember.

Well, segitu dulu. Setelah gue baca ulang sih banyak intisari tulisan ini yang cocok diterapkan dalam pekerjaan selain auditor. Back to work…

Jadi inget, jangan sampai profesi auditor jadi profesi yang dibenci semua orang. Ini tanggung jawab kita (eh, kalian ding). Jadi teringat, waktu ejek-ejekan soal profesi sama seorang sahabat, yang berprofesi sebagai marketing. Dia nyindir gini: "Mau tau, apa beda auditor yang mati ditabrak mobil, sama rusa yang ditabrak mobil? - Kalo rusa, ada bekas rem selip di depannya ..."  

"Lah, kalau auditor?"

"Ngapain ngerem? Kalo nampak auditor, tabrak aja! Hahahaha ..."  

Sial ....3^%%^#$%#@&65$7^

Auditor dan si Putri Kodok

Jadi gini, suatu hari, sepulang dari kantor klien, si auditor berjalan cepat melintasi tepi sungai, ketika terdengar suara panggilan. Setelah auditor mengamati sekeliling, sambil memastikan semuanya sudah di cross-footing, ternyata suara itu berasal dari seekor kodok.

"Hai tunggu," kata si kodok, "Aku sebenarnya putri yang cantik, tapi sedang dikutuk. Tapi kalau kamu menciumku, aku bisa jadi putri lagi. Ciumlah aku!"

Dengan hati-hati si auditor memungut si kodok, lalu memasukkannya ke saku jaketnya.

Si kodok berteriak, "Hai, ciumlah aku! Kalau aku sudah jadi putri, aku mau jadi pacarmu semalam."

Si auditor cuma tersenyum kecil.

"Iya deh, nggak semalam. Seminggu penuh deh!!!" teriak si kodok.

Si auditor senyum lebar, mengeluarkan kodok dari saku, mengelus-elusnya, kemudian memasukkan kembali ke saku.

Si kodok berteriak putus asa, "Ya deh, aku mau jadi pacar kamu seumur hidup. Tapi cium aku dong. Nanti aku jadi putri yang cantik sekali, yang akan menemani kamu selamanya."

Akhirnya si auditor buka suara juga. "Hey. Tahu nggak. Aku ini auditor. Aku nggak punya waktu buat pacaran. Tapi punya kodok yang bisa bicara, keren juga, kan?"

Cara Membuat Surat Resign

Satu bulan yang lalu

Hufff *menghela nafas*

"Kalau begini terus, aku mau resign ajalah ..."

Buka laptop, klik Mikocok Office, ketik surat resignation.

Bla .. Bla .. Bla ..
Bla .. Bla .. Bla ...
... Harapan saya, semoga KAP yang-bukan-big-four tetap menjadi yang terbaik. Demikianlah surat ini saya buat, atas segalanya, saya ucapkan terima kasih.
Huhuhuu ... Bullshit. Surat resign asal buat, di tengah rasa suntuk dan kesal teramat sangat.

edited Tapi baru aja nih, seorang sahabat ngirim email dengan judul 'How to Write a Resignation Letter'. Nampaknya patut dicoba ...

HOW TO WRITE A RESIGNATION LETTER

Short but formal


More Words

Much Much Formal


Still cann't resign? Try this ...


Kursi Listrik Untuk 3 Orang Wanita Pemabuk

Tiga orang wanita di kota Mexico yang sedang mabuk berat tertidur di pinggir jalan dan begitu bangun mereka sudah berada di dalam penjara. Mereka tidak ingat sama sekali apa yang sudah mereka lakukan tadi malam.

Wanita pertama, yang berambut coklat, diikat di kursi listrik dan dipersilakan memberikan kata-kata terakhirnya. Dia berkata, "Aku berasal dari Sekolah Teologi Baylor dan saya percaya pada Tuhan yang Mahakuasa bahwa Ia akan membela orang yang tidak bersalah."

Petugas eksekusi menekan tombol di kursi listrik tersebut, namun tidak terjadi apa-apa, sehingga mereka menganggap bahwa Tuhan tidak menginginkan orang ini mati, jadi mereka membebaskan dia.

Giliran wanita kedua yang berambut merah, diikat di kursi listrik dan memberikan kata-kata yang terakhir, "Aku berasal dari Sekolah Hukum Texas dan aku percaya pada kekuatan keadilan yang akan membela orang yang tidak bersalah."

Petugas lalu menekan tombol kursi listrik itu, lagi-lagi tidak terjadi apa-apa. Mereka menganggap bahwa kuasa hukum berpihak pada wanita ini, jadi mereka membebaskan dia.

Wanita yang terakhir, berambut pirang, diikat di kursi listrik dan berkata, "Saya seorang sarjana teknik listrik dari Texas, dan sekarang juga saya akan memberitahu Anda, bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mati di kursi listrik ini jika kabel yang di ujung sana itu tidak ditancapkan pada stop kontak!"

The Accountant | Sinopsis

“The Accountant” merupakan film yang bercerita tentang seorang pria bernama Christian Wolff ( Ben Affleck ) yang merupakan seorang akuntan dan banyak menghabiskan waktu dengan angka-angka dibanding orang lain.

Di samping bekerja sebagai seorang akuntan publik di sebuah kantor kecil, Christian Wolff juga bekerja sebagai akuntan lepas untuk membantu seorang petugas akuntan dari perusahaan robotika. Berkat kemampuannya menggabungkan akuntansi dalam menginvestigasi berbagai peristiwa litigasi serta praktek penipuan kelas kakap yang sering dilakukan dengan cara yang licin dan hampir tidak tedeteksi, Chris yang menemukan kejanggalan pada hasil pembukuan di perusahaan tersebut.

Semakin Chris dalam mengamati dan meneliti kasus yang sedang berkembang, semakin dalam pula dia terlibat dalam sebuah kasus pembantaian menyeramkan.

Kepala Divisi Kejahatan Bagian Departemen Keuangan, Ray King ( J. K Simmons ) mulai menyelidiki aktivitas Christian. Mampukah Christian keluar dari berbagai permasalahan yang menjeratnya?

Saksikan di Bioskop terdekat mulai 14 Oktober 2016.

Hubungan Istimewa

Salah satu bagian disclosure dalam audit report kantor kami adalah, transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

Karena ini adalah keharusan yang ditetapkan di PSAK No 7 tentang Pengungkapan Pihak-Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa. Jadi kalo ada temen yang lupa baca PSAK itu (kayak aku), mungkin dua pengertian ini bisa membantu
Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa adalah pihak-pihak yang dianggap mempunyai hubungan istimewa bila satu pihak mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pihak lain atau mempunyai pengaruh signifikan atas pihak lain dalam mengambil keputusan keuangan dan operasional.
Transaksi antara Pihak-Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa adalah suatu pengalihan sumber daya atau kewajiban antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, tanpa menghiraukan apakah suatu harga diperhitungkan.

Jadi, kalau ada transaksi dengan perusahaan asosiasi, anak atau bapak atau mama perusahaan, trus, karyawan kunci, pemegang saham, harus didisclose di report. Gitu ...

Nah, waktu itu kita jumpai klien, ngasi surat permintaan data, yang isinya minta daftar atau penjelasan manajemen mengenai transaksi dengan pihak istimewa. Jumpai bagian accounting, dengan gagah berani dan sedikit ketakutan gugup gak siap, karena mengira bakalah banyak berdiskusi dengan mereka tentang pihak-pihak mana saja yang dianggap "pihak istimewa".

Bong : "Siang, pak. Bla bla bla ..."
si Bapak : "Ya. Bla bla bla bla? Bla bli blu bla bla ..."
Bong : "Oh, ngerti bahasa bla-bla ya, pak? Wuiih, seneng, bisa jumpa temen alien dari satu planet. Kalo saya bilang bla blu blu, bapak ngerti nggak?"
si Bapak : "Oh, ngerti donk. Itu kan artinya blu bli bla bla bla. Bla bla bli bli cuuuiiiihh ..."

teman-teman yang juga ngerti bahasa bla-bla, silahkan join ke milis kami, alien-bla-bla@yahoogroups.com

Bong : "Pak, ini, saya mau minta daftar transaksi dengan pihak istimewa, donk."
si Bapak : *terpekur* "Em, pak, kami gak pernah tuh, memperlakukan orang beda-beda. Gak ada tuh, yang diistimewakan. Sama semua, pak ..."
Bong : *nahan ketawa sambil senyum-senyum*

repost dari : AuditorGila

Ulang - Ulang

Setelah kuamati, ternyata beberapa clientku punya kebiasaan mengulang-ulang kata saat sedang berbicara dengan auditor.

Bule  : So how's the audit? Oh, I see. Very goood, very good .... And how about the xxx? Oh, very good, very good

PimCab Bank : Begitu ya, pak? Jadi jadi jadi. Berarti, besok kan pak? Jadi jadi jadi ...

KaDiv Bank di Kantor Pusat : Selasa pak, ya? Baik baik baik. Akan kita atur, pak. Baik baik baik ...Pengemis di Bus yang dikasi Rp. 5000 : Semoga selamat sampai tujuan, anak muda. Semoga selamat, anak muda. Semoga selamat, anak muda ...

Bencong ngamen bawa kricingan : Aku nggak mau kalau aku dimadu .. Aku nggak mau kalo aku dimadu ... Aku gak mau kalau aku dimadu ...

Ada yang bisa menjelaskan fenomena aneh ini?

Apakah global warming has something to do with this? Apakah kekurangan hormon pada saraf neo kortex yang menyumbat titik G-Spot mempengaruhi? Ato apakah pemilik blog sudah beneran jadi gila karena 3 bulan gak pulang-pulang, sibuk ngaudit? Hehhehe, tebak sendirilah ...

Kalo aku sendiri, punya lagu gembira, yang selalu kunyanyikan berulang-ulang belakangan ini.

Bang Toyib, Bang Toyib, kenapa gak pulang-pulang ...
Bang Toyib, Bang Toyib, kenapa gak pulang-pulang ...
Bang Toyib, Bang Toyib, kenapa gak pulang-pulang ...





repost dari : AuditorGila

Top