Free Counter

English French German Spain Italian Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Label

rss

Photobucket
Melayani :
- Kepada pembaca yg akan kontak kami, Mohon tinggalkan alamat EMAIL YG BENAR - *** Artikel Selengkapnya, Lihat DAFTAR ISI ***

26 November, 2011

Gunakan Akuntan...!

“Jika anda menjalankan bisnis, gunakan Akuntan !” begitu kata Robert T. Kiyosaki dalam setiap buku yang dia tulis (Rich Dads Series). Bahkan, lebih ekstrem lagi, Robert melanjutkan kalimatnya “bahkan meski anda sendiri seorang akuntan.” Kalimat tersebut diucapkan melalui sebuah kolaborasi sempurna antara pemikiran, pengalaman, dan pendidikan yang berlangsung lama serta tekun.

Mengapa Akuntan? Disamping lebih berpengalaman dalam mengelola uang, mereka juga tahu seluk-beluk perpajakan, aspek legalitas (kenotarisan), bisa mengevaluasi nilai asset. Bahkan tak jarang dari mereka yang tahu seluk-beluk cara mengelola bisnis dengan lebih efektif. Dengan menggunakan jasa akuntan, diharapkan dapat meminimalkan kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang terkait dengan manajemen keuangan.

Kesalahan manajemen keuangan, diakui atau tidak, sering menjadi sumber masalah bagi banyak pengusaha pemula. Karakter alami jiwa muda yang selalu bersemangat—dan memang positif di satu sisinya—sering membuat mereka lepas kendali yang akhirnya berujung pada keputusan-keputusan tidak pas, terutama sekali di wilayah manajemen keuangan. Kesalahan manajemen keuangan dapat dihindari jika sejak awal disadari bahwa keputusan tertentu bisa berpengaruh buruk terhadap keuangan perusahaan, entah itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk itu perlu pertimbangan yang matang, kalau bisa dihindari.

Berikut adalah kesalahan menejemen keuangan yang paling sering dilakukan oleh pengusaha pemula adalah :


1. Investasi Overhead Berlebihan Di Awal-awal

Overhead yang saya maksudkan adalah hal-hal yang tidak berpengaruh langsung terhadap jumlah produk/jasa yang akan dihasilkan (untuk nantinya diperdagangkan). Banyak para pengusaha pemula yang menyewa kantor, atau membeli mesin dan peralatan mahal sejak di awal-awal. Belanja semacam ini dalam jumlah besar akan langsung menggerus persediaan dana yang ada. Sangat berbahaya bagi perusahaan yang baru dirintis. Katakanlah, kebutuhan modal kerja—untuk beli bahan baku, bahan penolong, upah pegawai, biaya kemas, ongkos kirim—telah diperhitungkan.

Saya yakin perhitungan tersebut masih berupa perkiraan (estimasi). Bagaimana jika ternyata jumlah pesanan/permintaan lebih tinggi dari yang diperkirakan? Sayang sekali jika harus kehilangan peluang itu.
Sebaiknya modal awal lebih banyak dicadangkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan/pesanan, sementara hanya menyewa kantor dan membeli peralatan dalam jumlah dan nilai yang sungguh-sungguh dibutuhkan saja.

2. Menyepelekan Pengeluaran-Pengeluaran Kecil

Klasik. Ironisnya kesalahan yang satu ini terus berlangsung. Memang, setiap perusahaan—termasuk yang baru dirintis, memiliki pengeluaran-pengeluaran kecil. Pengeluaran kecil yang dimaksudkan semacam: pensil, ballpoint, tinta printer, foto copy, kertas, bensin transportasi, dll.Nyaris tidak terasa, bukan? Bahkan kapan beli, apa yang dibeli, berapa jumlahnya-pun biasanya sudah tidak ingat lagi. Di akhir bulan, saat pengeluaran-pengaluaran kecil ini ditotal, saya jamin siapapun yang melihatnya pasti kaget.

Bagaimana mungkin dana anda banyak terpakai untuk sesuatu yang bisa dikatakan tidak membuat produk atau jasa yang anda hasilkan meningkat (jumlah/kwalitasnya). Itu terjadi karena kesalahan pertimbangan yang menganggap pengeluaran ini tidak berisiko, “Ah cuma pengeluaran kecil”.
Saking kecilnya, sampai tidak perlu dimasukan ke dalam daftar anggaran (budget) maupun prakiraan (forecast). Karena tidak masuk dalam daftar anggaran inilah yang sering membuat pengeluaran-pengeluaran kecil ini luput dari perhatian, lalu menjadi tidak terkendali.

Hal ini bukan berarti pengeluaran-pengeluaran kecil ini harus dimasukan ke dalam anggaran (budget). Tidak perlu. Yang terpenting adalah, tanamkan sekuat-kuatnya dalam benak bahwa pengeluaran-pengeluaran kecil ini jika tidak diketatkan akan membengkak, dan bisa menjadi bahan kekagetan setiap akhir bulan, sekaligus menjadi beban yang tidak perlu.

3. Tidak Menggaji Diri Sendiri

Pemilik bisnis muda cenderung menanamkan semua sumber daya yang dimilikinya ke dalam bisnis tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Mereka pikir akan terasa sulit jika bisnis harus dipisahkan dari kehidupan pribadi. Mereka lupa bahwa menjalankan usaha juga merupakan bentuk lain dari “bekerja”. Hal ini berakibat pada pengabaian gaji yang semestinya dibayar untuk pengelola usaha.

Seperti karyawan yang lain, berikan gaji secukupnya kepada Anda sendiri untuk memastikan keuangan pribadi Anda tetap sehat dan terpisah dari bisnis. Pemberian gaji kepada diri sendiri merupakan bentuk lain dari penghargaan terhadap kerja keras pengelola/pemilik bisnis. Selain itu, perhitungan Laba/Rugi sebuah bisnis akan lebih realistis jika unsur gaji untuk pengelola telah dihitung.

Namun, jangan mentang-mentang Anda pemilik bisnis ini lantas memberi gaji tinggi untuk Anda. Anda harus menyediakan cukup banyak dana untuk bisnis Anda supaya tetap dapat beroperasi dalam masa-masa sulit. Jika bisnis berkembang, pemilik bisnis bisa mengangkat karyawan (manajer) khusus untuk mengelola bisnisnya tanpa harus pusing memikirkan besaran gaji yang harus dibayar kepada manajer (karena anda sudah biasa dan memperhitungkan gaji anda sendiri). Dan, Selamat! Anda telah pindah kuadran dari kuadran B menjadi kuadran I. (Cashflow Quadrant - Robert T. Kiyosaki).

4. Mencampur aset bisnis dan pribadi

Modal awal untuk menjalankan usaha, seringkali berasal dari pinjaman dari pihak lain. Pinjaman ini biasanya menggunakan jaminan aset pribadi. Ini wajar, mengingat terbatasnya dana keuangan pribadi untuk membangun bisnis. Akan tetapi, secara perlahan penggunaan aset pribadi harus dikurangi. Mengapa demikian? Bayangkan, ketika bisnis Anda menurun, para kreditor bisa saja mengejar aset pribadi Anda.

5. “Merampok” kas perusahaan

Ketika berhasil melakukan penjualan yang hebat dalam dua atau tiga bulan, pengusaha pemula biasanya akan menjadi kelewat percaya diri. Pengusaha yang belum berpengalaman kemudian akan mulai menghabiskan arus kas perusahaan tanpa pandang bulu. Ambil contoh, ketika membutuhkan mobil operasional, mereka akan membeli mobil-mobil terbaik (dalam arti dengan merek terbaik dan harga yang lebih mahal), lalu menyadari bahwa pada beberapa bulan berikutnya ternyata tidak terjadi penjualan seperti yang diharapkan.

6. Terlalu Banyak Berinvestasi Untuk Produk Yang Belum di Tes

Karena terlalu bersemangat para pengusaha pemula biasanya tidak segan-segan untuk menginvestasikan sebagian besar dananya untuk produk yang ‘dianggap’ bernilai tinggi, diperkirakan akan laku keras, tanpa melakukan testing terlebih dahulu.Ini kerap terjadi di fase fase perancangan, rekayasa dan pengembangan. Sebelum mengambil keputusan pembiayaan atas produk baru, lakukan hal berikut :

  • Tes Pasar – Bayangkan, anda sudah mengeluarkan dana yang besar untuk mengembangkan produk yang menurut anda sangat bagus. Setelah dilempar ke pasar, ternyata tidak mendapat sambutan yang signifikan. Ini banyak terjadi pada produk-produk kreatif, terutama produk yang ‘keputusan-membeli’ customer dipengaruhi oleh selera dan rasa suka (bukan manfaat incremental/moneter). Lakukan tes pasar sebelum memutuskan mengeluarkan dana besar untuk pengembangannya.
  • Tes Produksi – Lebih parah lagi, jika memperoleh sambutan tinggi dari pasar tetapi ternyata tidak bisa di reproduksi secara massal (dalam jumlah banyak). Bukan saja kehilangan uang yang telah diinvestasikan pada masa pengembangan, tetapi juga merusak reputasi/image. Itu artinya juga kehilangan peluang di masa yang akan datang.

Saya tidak mengatakan semuanya, tetapi banyak rekan-rekan pengusaha pemula yang meremehkan masalah pengelolaan keuangan, sehingga enggan untuk menggunakan jasa seorang akuntan. Mungkin karena anggapan umum yang menyebutkan bahwa akuntan tahunya hanya angka ‘debit-dan-kredit’. Percayalah, banyakan akuntan pintar yang tidak hanya tahu bikin debit-dan-kredit.

Keunggulan advise bisnis dari para akuntan (dibandingkan adviser lainnya), apa yang mereka sarankan atau rekomendasikan selalu dilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan yang mensinergikan aspek bisnis, manajemen operasi, legalitas, perpajakan, tertutama aspek keuangan. Sehingga keputusan yang dihasilkan bukan saja strategis, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keuangan perusahaan. Bukankah tujuan membuat usaha adalah untuk mengahasilkan uang?

Akuntan yang berpengalaman juga sangat piawai menghitung risiko. Tentu pertimbangan risiko yang mereka sarankan tidak dimaksudkan untuk mengganjal laju perkembangan bisnis, melainkan pertimbangan risiko yang terukur. Mereka memang terlatih oleh tempaan pendidikan dan pengalaman untuk melakukan itu. Sehingga keputusan yang dihasilkan sudah bersifat opitimist-realistic.

Berkolaborasi dengan akuntan akan sangat bagus untuk mengimbangi daya dorong para pengsaha muda yang biasanya cenderung meledak-ledak. Mereka bisa menjadi partner yang menguntungkan. Sehingga, mengapa anda enggan menggunakan jasa akuntan?






Jika anda ingin mengajukan pertanyaan, diskusi, atau kritikan dan Saran silahkan klik d i s i n i

Bagikan/Simpan/Bookmarks


...Baca Lebih Lanjut........... »»

22 November, 2011

Ekonom VS Akuntan

Seorang ekonom dan akuntan berjalan melewati sebuah rawa yang besar. Mereka melihat seekor katak di lumpur. Ekonom secara spontan mengatakan: "Jika Anda makan katak, aku akan memberimu 20 juta!"

Akuntan berfikir sebentar, lalu makan katak itu, jadi dia mendapatkan uang taruhan tadi. Mereka melanjutkan perjalanan sepanjang rawa tadi.

Beberapa saat kemudian akuntan tadi mengatakan: "Sekarang, jika Anda makan kodok ini saya akan memberikan Anda 2 juta ."

Setelah mengevaluasi usulan tersebut ekonom langsung makan katak dan mendapatkan uang.

Mereka mulai berjalan lagi dan akuntan mulai berpikir, "Dengar, kita berdua memiliki jumlah uang yang sama kita miliki sebelumnya, tapi kita berdua makan kodok, dan aku tidak melihat bahwa kondisi kita menjadi lebih baik..."

Ekonom: "Yah, itu benar, tetapi Anda mengabaikan fakta bahwa kita sudah terlibat dalam perdagangan senilai 40 juta!"




Jika anda ingin mengajukan pertanyaan, diskusi, atau kritikan dan Saran silahkan klik d i s i n i

Bagikan/Simpan/Bookmarks


...Baca Lebih Lanjut........... »»

17 November, 2011

Karir Ideal Akuntan

Belajar tidak hanya bisa dilakukan di sekolah. Semua orang pasti sepakat dengan pernyataan ini. Justru pengalamanlah yang akan mematangkan kualitas seseorang, termasuk seorang akuntan. Mengenai pengalaman ini, saya jadi teringat sebuah kata bijak " Tau jalannya tidak sama dengan menjalaninya"

Analogi sederhananya begini, jika kita akan melakukan perjalanan.. kita akan mempelajari Peta. Nah, sekolah ataupun perguruan tinggi adalah lembaga tempat kita mempelajari peta. Setelah kita tahu petanya.. kita akan tahu harus kemana jika akan menuju suatu tempat. Akan tetapi, kita tidak akan pernah tahu kondisi lapangan.. selama dalam perjalanan akan menemui kendala apa..Kita bisa tahu semua kendala jika sudah menjalaninya.

Membandingkan pengalaman saya di dalam dan di luar KAP menunjukan betapa pentingnya memahami “apa sesunggungnya di balik angka-angka di dalam jurnal dan laporan keuangan ”. Jauh lebih penting dibandingkan sekedar mengetahui apakah suatu laporan keuangan sudah sesuai standar akuntansi atau belum. Mengapa?

  1. Akuntansi tidak ada fungsinya jika tidak ada bisnis atau perusahaan (apa yang mau dijurnal, dihitung dan dilaporkan jika tidak ada aktivitas binis atau usaha?)
  2. Para pelaku usaha tidak peduli apakah laporan keuangan mereka sesuai standar akuntansi atau tidak. Mau dicatat seperti apa, mau dihitung menggunakan metode apa, mau dilaporkan dengan format penyajian seperti apa, silahkan saja, samasekali tak penting bagi mereka. Yang mereka pedulikan cuma satu yaitu: PERUSAHAAN UNTUNG
  3. Di perusahaan-perusahaan yang sudah go publik, mungkin manajemen atau board director merasa senang bila Laporan Laba Rugi mereka menunjukan laba—apalagi jika labanya terus meningkat dari waktu-ke-waktu. Investor mungkin juga tertarik. Akan TETAPI, apakah pemegang saham yang sudah ada pasti senang? Tidak. Mereka tak peduli laporan keuangan. Yang mereka pedulikan hanya satu, yaitu: DIVIDEN—apakah perusahaan bagi dividen atau tidak, berapa besarnya?

Dari 3 fakta tersebut, menurut pandangan saya: dibandingkan sekedar menjurnal, membuat laporan keuangan, melakukan penilaian apakah laporan keuangan sudah sesuai standar atau tidak, JAUH LEBIH BERHARGA DAN MEMBANGGAKAN jika seorang akuntan bisa:
  1. Mencegah Kerugian – Mengetahui lebih awal mengenai potensi risiko bisnis sekaligus memberikan rekomendasi untuk melakukan pencegahan kerugian dengan menggunakan data keuangan dan non-keuangan (operasional). Apakah seorang auditor di KAP menjalankan fungsi itu? Saya rasa tidak. Fungsi seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang internal auditor (di bawah supervise seorang controller). Auditor di KAP lebih banyak bekerja menggunakan data-data historis (yang transaksi bisnisnya sudah terjadi). 
  2. Mendorong Efisiensi dan Produktifitas – Memberikan masukan-masukan (melalui analisa data akuntansi dan keuangan) untuk meningkatkan efisiensi tanpa menghambat produktifitas dalam opersional perusahaan. Fungsi seperti ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang memahami business best practice—praktek berbisnis mulai dari perencanaan hingga opersional—yang sifatnya spesifik antara satu usaha dengan usaha lainnya. Apakah seorang auditor (bahkan yang sudah berlevel partner sekalipun) punya kapasitas ini? Saya meragukannya. Kemampuan ini tidak diperoleh dari memahami standar akuntansi yang menjadi kitab sucinya para auditor 
  3. Memitigasi Masalah Keuangan – Menemukan akar masalah sekaligus memberikan rekomendasi solusi yang ampuh untuk mengatasi masalah dalam suatu bisnis (usaha). Mampu mengetahui dimana akar masalah keuangan yang terjadi—apakah di struktur modal, di perencanaan, di opersional, atau di pengawasan. Selanjutnya memberikan rekemndasi bagaimana cara mengatasinya. Terakhir memberi contoh implementasi sekaligus mengawal agar implementasi bisa berjalan sesuai yang diharapkan—dan masalah bisa diatasi.

Itulah karir seorang akuntan yang paling ideal menurut saya. Saya percaya setiap orang memiliki pola berpikir serta cara menilai yang berbeda. Setiap orang menjalankan karirnya sesuai dengan apa yang diyakininya baik. Tak ada yang salah dengan semua itu. Yang salah adalah ‘merasa’ lebih baik dibandingkan yang lain atau merasa lebih buruk dibandingkan yang lain.





Jika anda ingin mengajukan pertanyaan, diskusi, atau kritikan dan Saran silahkan klik d i s i n i

Bagikan/Simpan/Bookmarks


...Baca Lebih Lanjut........... »»

Arsip





Add to Technorati Favorites
Bimbel Omega

Info Keuangan

Time in Surabaya:

Uziek Info


Mau ikutan kontes main forex berhadiah $1,500 ? Ayo buruan DAFTAR DISINI

Catatan Dahlan Iskan


 

LinkWithin