Belajar tidak hanya bisa dilakukan di sekolah. Semua orang pasti sepakat dengan pernyataan ini. Justru pengalamanlah yang akan mematangkan kualitas seseorang, termasuk seorang akuntan. Mengenai pengalaman ini, saya jadi teringat sebuah kata bijak " Tau jalannya tidak sama dengan menjalaninya"

Analogi sederhananya begini, jika kita akan melakukan perjalanan.. kita akan mempelajari Peta. Nah, sekolah ataupun perguruan tinggi adalah lembaga tempat kita mempelajari peta. Setelah kita tahu petanya.. kita akan tahu harus kemana jika akan menuju suatu tempat. Akan tetapi, kita tidak akan pernah tahu kondisi lapangan.. selama dalam perjalanan akan menemui kendala apa..Kita bisa tahu semua kendala jika sudah menjalaninya.
Membandingkan pengalaman saya di dalam dan di luar KAP menunjukan betapa pentingnya memahami “apa sesunggungnya di balik angka-angka di dalam jurnal dan laporan keuangan ”. Jauh lebih penting dibandingkan sekedar mengetahui apakah suatu laporan keuangan sudah sesuai standar akuntansi atau belum. Mengapa?
- Akuntansi tidak ada fungsinya jika tidak ada bisnis atau perusahaan (apa yang mau dijurnal, dihitung dan dilaporkan jika tidak ada aktivitas binis atau usaha?).
- Para pelaku usaha tidak peduli apakah laporan keuangan mereka sesuai standar akuntansi atau tidak. Mau dicatat seperti apa, mau dihitung menggunakan metode apa, mau dilaporkan dengan format penyajian seperti apa, silahkan saja, samasekali tak penting bagi mereka. Yang mereka pedulikan cuma satu yaitu: PERUSAHAAN UNTUNG.
- Di perusahaan-perusahaan yang sudah go publik, mungkin manajemen atau board director merasa senang bila Laporan Laba Rugi mereka menunjukan laba—apalagi jika labanya terus meningkat dari waktu-ke-waktu. Investor mungkin juga tertarik. Akan TETAPI, apakah pemegang saham yang sudah ada pasti senang? Tidak. Mereka tak peduli laporan keuangan. Yang mereka pedulikan hanya satu, yaitu: DIVIDEN—apakah perusahaan bagi dividen atau tidak, berapa besarnya?
- Mencegah Kerugian – Mengetahui lebih awal mengenai potensi risiko bisnis sekaligus memberikan rekomendasi untuk melakukan pencegahan kerugian dengan menggunakan data keuangan dan non-keuangan (operasional). Apakah seorang auditor di KAP menjalankan fungsi itu? Saya rasa tidak. Fungsi seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang internal auditor (di bawah supervise seorang controller). Auditor di KAP lebih banyak bekerja menggunakan data-data historis (yang transaksi bisnisnya sudah terjadi).
- Mendorong Efisiensi dan Produktifitas – Memberikan masukan-masukan (melalui analisa data akuntansi dan keuangan) untuk meningkatkan efisiensi tanpa menghambat produktifitas dalam opersional perusahaan. Fungsi seperti ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang memahami business best practice—praktek berbisnis mulai dari perencanaan hingga opersional—yang sifatnya spesifik antara satu usaha dengan usaha lainnya. Apakah seorang auditor (bahkan yang sudah berlevel partner sekalipun) punya kapasitas ini? Saya meragukannya. Kemampuan ini tidak diperoleh dari memahami standar akuntansi yang menjadi kitab sucinya para auditor
- Memitigasi Masalah Keuangan – Menemukan akar masalah sekaligus memberikan rekomendasi solusi yang ampuh untuk mengatasi masalah dalam suatu bisnis (usaha). Mampu mengetahui dimana akar masalah keuangan yang terjadi—apakah di struktur modal, di perencanaan, di opersional, atau di pengawasan. Selanjutnya memberikan rekemndasi bagaimana cara mengatasinya. Terakhir memberi contoh implementasi sekaligus mengawal agar implementasi bisa berjalan sesuai yang diharapkan—dan masalah bisa diatasi.
Itulah karir seorang akuntan yang paling ideal menurut saya. Saya percaya setiap orang memiliki pola berpikir serta cara menilai yang berbeda. Setiap orang menjalankan karirnya sesuai dengan apa yang diyakininya baik. Tak ada yang salah dengan semua itu. Yang salah adalah ‘merasa’ lebih baik dibandingkan yang lain atau merasa lebih buruk dibandingkan yang lain.







0 komentar:
Poskan Komentar