“Jika anda menjalankan bisnis, gunakan Akuntan !” begitu kata Robert T. Kiyosaki dalam setiap buku yang dia tulis (Rich Dads Series). Bahkan, lebih ekstrem lagi, Robert melanjutkan kalimatnya “bahkan meski anda sendiri seorang akuntan.” Kalimat tersebut diucapkan melalui sebuah kolaborasi sempurna antara pemikiran, pengalaman, dan pendidikan yang berlangsung lama serta tekun.
Kesalahan manajemen keuangan, diakui atau tidak, sering menjadi sumber masalah bagi banyak pengusaha pemula. Karakter alami jiwa muda yang selalu bersemangat—dan memang positif di satu sisinya—sering membuat mereka lepas kendali yang akhirnya berujung pada keputusan-keputusan tidak pas, terutama sekali di wilayah manajemen keuangan. Kesalahan manajemen keuangan dapat dihindari jika sejak awal disadari bahwa keputusan tertentu bisa berpengaruh buruk terhadap keuangan perusahaan, entah itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk itu perlu pertimbangan yang matang, kalau bisa dihindari.
Berikut adalah kesalahan menejemen keuangan yang paling sering dilakukan oleh pengusaha pemula adalah :
1. Investasi Overhead Berlebihan Di Awal-awal
Overhead yang saya maksudkan adalah hal-hal yang tidak berpengaruh langsung terhadap jumlah produk/jasa yang akan dihasilkan (untuk nantinya diperdagangkan). Banyak para pengusaha pemula yang menyewa kantor, atau membeli mesin dan peralatan mahal sejak di awal-awal. Belanja semacam ini dalam jumlah besar akan langsung menggerus persediaan dana yang ada. Sangat berbahaya bagi perusahaan yang baru dirintis. Katakanlah, kebutuhan modal kerja—untuk beli bahan baku, bahan penolong, upah pegawai, biaya kemas, ongkos kirim—telah diperhitungkan.
Saya yakin perhitungan tersebut masih berupa perkiraan (estimasi). Bagaimana jika ternyata jumlah pesanan/permintaan lebih tinggi dari yang diperkirakan? Sayang sekali jika harus kehilangan peluang itu.
Sebaiknya modal awal lebih banyak dicadangkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan/pesanan, sementara hanya menyewa kantor dan membeli peralatan dalam jumlah dan nilai yang sungguh-sungguh dibutuhkan saja.
2. Menyepelekan Pengeluaran-Pengeluaran Kecil
Klasik. Ironisnya kesalahan yang satu ini terus berlangsung. Memang, setiap perusahaan—termasuk yang baru dirintis, memiliki pengeluaran-pengeluaran kecil. Pengeluaran kecil yang dimaksudkan semacam: pensil, ballpoint, tinta printer, foto copy, kertas, bensin transportasi, dll.Nyaris tidak terasa, bukan? Bahkan kapan beli, apa yang dibeli, berapa jumlahnya-pun biasanya sudah tidak ingat lagi. Di akhir bulan, saat pengeluaran-pengaluaran kecil ini ditotal, saya jamin siapapun yang melihatnya pasti kaget.
Bagaimana mungkin dana anda banyak terpakai untuk sesuatu yang bisa dikatakan tidak membuat produk atau jasa yang anda hasilkan meningkat (jumlah/kwalitasnya). Itu terjadi karena kesalahan pertimbangan yang menganggap pengeluaran ini tidak berisiko, “Ah cuma pengeluaran kecil”.
Saking kecilnya, sampai tidak perlu dimasukan ke dalam daftar anggaran (budget) maupun prakiraan (forecast). Karena tidak masuk dalam daftar anggaran inilah yang sering membuat pengeluaran-pengeluaran kecil ini luput dari perhatian, lalu menjadi tidak terkendali.
Hal ini bukan berarti pengeluaran-pengeluaran kecil ini harus dimasukan ke dalam anggaran (budget). Tidak perlu. Yang terpenting adalah, tanamkan sekuat-kuatnya dalam benak bahwa pengeluaran-pengeluaran kecil ini jika tidak diketatkan akan membengkak, dan bisa menjadi bahan kekagetan setiap akhir bulan, sekaligus menjadi beban yang tidak perlu.
3. Tidak Menggaji Diri Sendiri
Pemilik bisnis muda cenderung menanamkan semua sumber daya yang dimilikinya ke dalam bisnis tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Mereka pikir akan terasa sulit jika bisnis harus dipisahkan dari kehidupan pribadi. Mereka lupa bahwa menjalankan usaha juga merupakan bentuk lain dari “bekerja”. Hal ini berakibat pada pengabaian gaji yang semestinya dibayar untuk pengelola usaha.
Seperti karyawan yang lain, berikan gaji secukupnya kepada Anda sendiri untuk memastikan keuangan pribadi Anda tetap sehat dan terpisah dari bisnis. Pemberian gaji kepada diri sendiri merupakan bentuk lain dari penghargaan terhadap kerja keras pengelola/pemilik bisnis. Selain itu, perhitungan Laba/Rugi sebuah bisnis akan lebih realistis jika unsur gaji untuk pengelola telah dihitung.
Namun, jangan mentang-mentang Anda pemilik bisnis ini lantas memberi gaji tinggi untuk Anda. Anda harus menyediakan cukup banyak dana untuk bisnis Anda supaya tetap dapat beroperasi dalam masa-masa sulit. Jika bisnis berkembang, pemilik bisnis bisa mengangkat karyawan (manajer) khusus untuk mengelola bisnisnya tanpa harus pusing memikirkan besaran gaji yang harus dibayar kepada manajer (karena anda sudah biasa dan memperhitungkan gaji anda sendiri). Dan, Selamat! Anda telah pindah kuadran dari kuadran B menjadi kuadran I. (Cashflow Quadrant - Robert T. Kiyosaki).
4. Mencampur aset bisnis dan pribadi
Modal awal untuk menjalankan usaha, seringkali berasal dari pinjaman dari pihak lain. Pinjaman ini biasanya menggunakan jaminan aset pribadi. Ini wajar, mengingat terbatasnya dana keuangan pribadi untuk membangun bisnis. Akan tetapi, secara perlahan penggunaan aset pribadi harus dikurangi. Mengapa demikian? Bayangkan, ketika bisnis Anda menurun, para kreditor bisa saja mengejar aset pribadi Anda.
5. “Merampok” kas perusahaan
Ketika berhasil melakukan penjualan yang hebat dalam dua atau tiga bulan, pengusaha pemula biasanya akan menjadi kelewat percaya diri. Pengusaha yang belum berpengalaman kemudian akan mulai menghabiskan arus kas perusahaan tanpa pandang bulu. Ambil contoh, ketika membutuhkan mobil operasional, mereka akan membeli mobil-mobil terbaik (dalam arti dengan merek terbaik dan harga yang lebih mahal), lalu menyadari bahwa pada beberapa bulan berikutnya ternyata tidak terjadi penjualan seperti yang diharapkan.
6. Terlalu Banyak Berinvestasi Untuk Produk Yang Belum di Tes
Karena terlalu bersemangat para pengusaha pemula biasanya tidak segan-segan untuk menginvestasikan sebagian besar dananya untuk produk yang ‘dianggap’ bernilai tinggi, diperkirakan akan laku keras, tanpa melakukan testing terlebih dahulu.Ini kerap terjadi di fase fase perancangan, rekayasa dan pengembangan. Sebelum mengambil keputusan pembiayaan atas produk baru, lakukan hal berikut :
- Tes Pasar – Bayangkan, anda sudah mengeluarkan dana yang besar untuk mengembangkan produk yang menurut anda sangat bagus. Setelah dilempar ke pasar, ternyata tidak mendapat sambutan yang signifikan. Ini banyak terjadi pada produk-produk kreatif, terutama produk yang ‘keputusan-membeli’ customer dipengaruhi oleh selera dan rasa suka (bukan manfaat incremental/moneter). Lakukan tes pasar sebelum memutuskan mengeluarkan dana besar untuk pengembangannya.
- Tes Produksi – Lebih parah lagi, jika memperoleh sambutan tinggi dari pasar tetapi ternyata tidak bisa di reproduksi secara massal (dalam jumlah banyak). Bukan saja kehilangan uang yang telah diinvestasikan pada masa pengembangan, tetapi juga merusak reputasi/image. Itu artinya juga kehilangan peluang di masa yang akan datang.
Saya tidak mengatakan semuanya, tetapi banyak rekan-rekan pengusaha pemula yang meremehkan masalah pengelolaan keuangan, sehingga enggan untuk menggunakan jasa seorang akuntan. Mungkin karena anggapan umum yang menyebutkan bahwa akuntan tahunya hanya angka ‘debit-dan-kredit’. Percayalah, banyakan akuntan pintar yang tidak hanya tahu bikin debit-dan-kredit.
Keunggulan advise bisnis dari para akuntan (dibandingkan adviser lainnya), apa yang mereka sarankan atau rekomendasikan selalu dilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan yang mensinergikan aspek bisnis, manajemen operasi, legalitas, perpajakan, tertutama aspek keuangan. Sehingga keputusan yang dihasilkan bukan saja strategis, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keuangan perusahaan. Bukankah tujuan membuat usaha adalah untuk mengahasilkan uang?
Akuntan yang berpengalaman juga sangat piawai menghitung risiko. Tentu pertimbangan risiko yang mereka sarankan tidak dimaksudkan untuk mengganjal laju perkembangan bisnis, melainkan pertimbangan risiko yang terukur. Mereka memang terlatih oleh tempaan pendidikan dan pengalaman untuk melakukan itu. Sehingga keputusan yang dihasilkan sudah bersifat opitimist-realistic.
Berkolaborasi dengan akuntan akan sangat bagus untuk mengimbangi daya dorong para pengsaha muda yang biasanya cenderung meledak-ledak. Mereka bisa menjadi partner yang menguntungkan. Sehingga, mengapa anda enggan menggunakan jasa akuntan?









0 komentar: